SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, SEMOGA BERMANFAAT

Selasa, 12 Desember 2017

Viva Video pro terbaru 2019

Assalamu'alaikum

Vivavideo Pro merupakan aplikasi berbayar di android. Dan seperti biasa kalian bisa download secara gratis dan menginstalnya dari sini. Seperti saya utarakan di atas bahwa Vivavideo Pro kaya akan fitur salah satunya adalah kalian bisa menambahkan efek slow motion,mengabungkan menambah dan mengurangi video dengan mudah. Nah untuk mencoba atau kalian sedang mencari aplikasi ini silahkan download secara gratis disini.


Minggu, 10 Desember 2017

Action Anime Hero V1.7 Full APK

Assalamu'alaikum,
Langsung saja gan, otw download

Desckripsi Action Anime Hero :

Sudah waktunya masuk dunia anime.
Anda harus mengalahkan penjahat pahlawan banyak untuk membuka Boss terakhir.
Semakin banyak Anda bertarung semakin Anda mendapatkan kekuatan dan kekuatan.


Selasa, 05 Desember 2017

Kumpulan draf makalah Strategi Belajar Mengajar

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Selamat berkunjung di blog ku, langsung saja cek di tkp kumpulan makalah sbm
>>>
>>>>>
>>>>>>>
>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>>
>>>>>>>>>>>>>

Cara ekstrak File yang berbentuk Zip

Assalamu'alaikum... Sobat Opreckers pasti sudah tidak asing lagi dengan Aplikasi Root Explorer. Karena aplikasi ini merupakan salah satu aplikasi penting yang harus Sobat miliki untuk mengedit Android. Dengan menggunakan Aplikasi ini, Sobat bisa mengubah maunpun mengedit file System di Android Sobat. Tapi kali ini Saya akan membahas mengenai manfaat Root Explorer yang digunakan untuk Ekstrak berbagai file di Android dengan mudah.

Root Explorer Pro


Jumat, 23 Oktober 2015

biografi imam syafii

Imam Syafi’i dikenal dengan salah satu imam madzhab empat, Ia bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i, lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah (767-820 M), berasal dari keturunan bangsawan Qurays dan masih keluarga jauh rasulullah SAW.

Rabu, 21 Oktober 2015

Asal mula KOTA PEMALANG

ASAL MULA PEMALANG ASAL MULA KOTA PEMALANG ASAL MULA KOTA PEMALANG

Mengenai dari mana nama Pemalang berasal,terdapat bermacam-macam legenda sebagai berikut:

1. Nama Pemalang diambil dari kepribadian watak rakyat Pemalang yang bersemboyan: - Benteng wareng ing payudan tan sinayudan. - Banteng wareng ing sinonderan yang artinya, rakyat Pemalang jika sudah dilukai atau dijajah berani berjuang RAWE-RAWE RANTAS MALANG-MALANG PUTUNG BERANI BERKORBAN HABIS-HABISAN DEMI NUSA DAN BANGSA. - Arti banteng wareng rakyat kecil payudaan : perang tan sinayudan : perang tidak dapat dicegah RAWE-RAWE RANTAS MALANG MALANG PUTUNG BANTENG WARENG SINONDERAN : Dalam melawan musuh sambil menari-nari, sinonderan biarpun sampai kalung usus takan pantang menyerah.

2. Nama Pemalang diambil dari nama sungai me'malang' yang membentang dari sebelah utara desa Kabunan membujur ke pelabuhan Pelawangan. Sungai tersebut sering digunakan untuk sarana angkutan, membawa barang- barang dari pusat Pemalang ke berbagai wilayah seperti Kabunan, Taman, Beji, Pedurungan (pada abad ke XIV di masa Majapahit berkuasa) saat itu penguasa Pemalang adalah Ki Gede Sambungyudha.

3. Karena erosi akibat arus sungai yang membawa lumpur dari gunung ke laut diperkirakan per tahun terkikis lima-enam meter maka sungai MALANG berpindah ke utara dari Comal ke Asemdoyong, sungai itu melintang malang, tidak dari selatan gunung ke utara tetapi dari timur ke barat, sehingga membingungkan orang yang mau berbuat jahat. contohnya ketika patih Thalabuddin dari kesultanan Banten membawa keris Kyai tapak ia mendadak menjadi bingung ( keder ) sehingga mondar-mandir saja di Pemalang.

K ota Pemalang di pantai utara Jawa Tengah saat ini merupakan ibu kota Kabupaten Pemalang. Kota itu terletak di antara dua kota besar yang menjadi tetangganya, yaitu Pekalongan di sebelah timur dan Tegal di sebelah barat. Pemalang boleh dikatakan sebuah kota yang sudah tua umurnya sehingga kisahnya pantas dibanggakan. Tanggal lahir Kabupaten Pemalang adalah 24 Januari 1575. Artinya, mulai saat itulah resmi ada pemerintahan kabupaten. Tentu saja jauh sebelumnya pasti sudah ada kehidupan masyarakat yang berpusat di daerah tersebut. Tidak mungkin suatu pemerintahan berdiri secara tiba-tiba. Sejarah Pemalang dapat dikaitkan dengan Kerajaan Mataram Kuno yang berdiri pada tahun 700-an (abad ke-8) di Jawa Tengah. Kerajaan itu subur makmur loh jinawi; terbukti mampu membangun Candi Borobudur di Magelang dan candi-candi di dataran tinggi Dieng, dekat Wonosobo. Diperkirakan daerah Kedu yang memanjang dari Borobudur sampai Dieng merupakan wilayah inti kerajaan. Dihuni penduduk yang bertani dan berladang dengan penuh kebahagiaan. Waktu itu belum dikenal nama Pemalang, tetapi tempat-tempat tertentu di daerah tersebut sudah dijadikan pelabuhan. Jadi, daerah Pemalang boleh dibayangkan sebagai pintu gerbang Mataram Kuno. Wajar, karena posisinya di bawah dataran tinggi Dieng. Namun, daerah itu belum sempat berkembang ketika terjadi keruntuhan Mataram Kuno.

Menurut sejarah, pada pertengahan tahun 900-an (abad ke-10) terjadilah perpindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur, yaitu di aliran Sungai Brantas. Mungkin karena gempa bumi atau gunung meletus. Pada zaman itu, Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro masih menjadi gunung berapi yang ganas. Mungkin juga karena perang. Yang jelas, surutlah kekuasaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Yang berkembang kemudian adalah Singosari, Kediri, dan Majapahit di Jawa Timur. Waktunya kira-kira dari abad ke-11 sampai akhir abad ke-15. Kehidupan masyarakat yang tersisa di Jawa Tengah tetap berjalan terus, tetapi selama ratusan tahun tidak menghasilkan prestasi yang gemilang. Selama itu pula Pemalang merupakan daerah yang bebas dari kekuasaan mana pun. Mataram Kuno sudah runtuh, sedangkan kekuasaan baru di Jawa Timur sangat jauh jaraknya. Pemalang seperti "daerah tidak bertuan". Konon Pemalang pernah dimanfaatkan oleh Patih Gajah Mada sebagai pangkalan perang ke Sriwijaya. Dukungan orang Pemalang di bawah pimpinan Ki Buyut Jiwandono atau Ki Buyut Banjaransari membuahkan hasil gemilang. Karena itu, Pemalang dijadikan daerah perdikan. Artinya, suatu wilayah yang tidak dipungut pajak. Sebuah perdikan biasanya diberikan kepada tokoh yang berjasa besar.

Pemerintahan atau kekuasaan di Pemalang mulai berkembang pada akhir tahun 1350-an berkaitan dengan Majapahit. Kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan di bawah kekuasaan Maharaja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Wilayahnya meliputi seluruh Nusantara, dan pengaruhnya sampai ke Pulau Madagaskar di dekat Benua Afrika. Kejayaan itu tercapai berkat Sumpah Palapa Gajah Mada yang bertekad mempersatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah bendera Majapahit. Penyatuan atau penaklukan itu ada yang berjalan secara damai dengan hubungan dagang dan pemerintahan (politik), tetapi ada juga yang harus dengan peperangan. Walaupun sudah menjangkau seluruh Nusantara, masih ada daerah-daerah tertentu yang terlewat. Salah satu kerajaan yang belum tunduk kepada Majapahit adalah Pajajaran di Pasundan (Jawa Barat). Pajajaran memiliki kekuatan militer yang canggih, dukungan rakyat yang hebat, kekayaan alam yang berlimpah, keindahan alam yang menawan, dan gadis-gadis yang cantik. Seorang putrinya yang bernama Dyah Pitaloka bagaikan bidadari turun ke bumi. Keadaan itu membikin Gajah Mada merasa sayang untuk menaklukkan Pajajaran dengan peperangan. Lantas dicarilah siasat yang jitu agar Pajajaran dapat dikalahkan secara damai, bahkan dirangkul mesra. Singkat cerita, tersusunlah sebuah siasat untuk menguasai Pajajaran. Pada mulanya, disiapkan pinangan atau lamaran Hayam Wuruk kepada putri Dyah Pitaloka dengan keyakinan pasti disambut hangat. Pinangan dari seorang maharaja berarti penghormatan. Kalau sampai ditolak berarti perlawanan. Ternyata benar, lamaran itu diterima baik-baik, bahkan di-sanggupi keberangkatan calon pengantin putri ke Majapahit. Tetapi apakah yang terjadi kemudian? Sampai di desa Bubat rombongan Pajajaran dihentikan. Kemudian diberi penjelasan bahwa calon pengantin putri harus dihadapkan sebagai persembahan atau upeti. Artinya, Pajajaran harus mengakui kekuasaan Majapahit. Tentu saja hal itu menimbulkan kekecewaan Pajajaran sehingga terjadilah perang yang seru. Tahulah Gajah Mada bahwa rombongan tersebut bukan pasukan militer yang siap berperang. Mereka hanya rombongan calon pengantin putri. Mereka kaget, panik, dan berantakan menghadapi serangan yang mendadak. Raja Pajajaran terpaksa mengakui kekalahan dengan dendam yang berat. Dendam pun melekat di hati Dyah Pitaloka yang merasa dikhianati. Sadarlah dia bahwa pinangan terhadapnya hanyalah siasat Majapahit menaklukkan Pajajaran. Setelah lolos dari kancah pertempuran, dia pun berniat kembali ke Pajajaran. Akan tetapi, di tengah perjalanan dia mengakhiri hidupnya dengan kerisnya sendiri. Peristiwa tragis itu terjadi pada tahun 1348 di desa Bubat sehingga terkenal dengan nama Perang Bubat.

Dalam berbagai cerita tidak dijelaskan di mana sebenarnya letak desa atau kota Bubat. Yang ada sekarang adalah kota Babat di Kabupaten Lamongan, pantai utara Jawa Timur. Bisa dibayangkan pada zaman kuno tempat itu merupakan salah satu gerbang masuk ke Majapahit. Apakah Bubat di zaman kuno sama dengan kota Babat sekarang merupakan kisah tersendiri. Di sebelah barat Pemalang ada kota kecil Babadan. Namanya hampir sama dengan Bubat. Mungkin juga di situlah perang terjadi. Yang jelas, setelah perang berakhir banyak prajurit Majapahit yang tidak langsung kembali ke markasnya. Ada yang beralasan jenuh berperang, ingin merintis kehidupan baru, dan berguru kesaktian kepada para pendekar terkenal. Waktu itu Ki Buyut Banjaransari di perdikan Pemalang sudah tersohor kesaktiannya. Wajar bila banyak orang berguru kepadanya. Di antaranya adalah Ki Bondan Lamatan yang telah Sampai di Bubat, terjadilah perang yang seru sehingga Raja Pajajaran terpaksa mengaku kalah dengan dendam yang berat. bertugas sebagai senopati atau komandan prajurit Majapahit dalam Perang Bubat. Ki Bondan Lamatan tidak hanya memperoleh kesaktian, bahkan menjadi menantu gurunya. Dia menikah dengan Endangsih dan menurunkan sepasang anak lelaki, yaitu Raden Sambungyudha alias Joko Malang dan Raden Aburabur. Setelah dewasa, Raden Joko Malang berguru kepada Ki Tapel Wojo hingga tuntas dan diakui masyarakat sebagai pendekar yang hebat. Hal itu sangat menyenangkan hati ayah dan kakeknya. Kebetulan Ki Buyut Banjaransari tidak sempat mengurus perdikan Pemalang karena kesibukan. Mestinya Ki Buyut Banjaransari melimpahkan kekuasaan perdikan itu kepada menantu Ki Bondan Lamatan. Tetapi Ki Bondan belum sanggup melaksanakan, bahkan memilih jadi pendekar di Gunung Slamet. Itulah sebabnya kekuasaan perdikan diwariskan ke tangan Raden Joko Malang atau Raden Sambungyudha. Diperkirakan nama Pemalang berkaitan dengan nama tokoh tersebut. Kata pe atau pa dalam bahasa Jawa dapat menunjukkan tempat, sedangkan malang kebetulan menunjukkan nama orangnya. Jadi, Pemalang berarti 'suatu tempat yang dimiliki atau dikuasai Raden Joko Malang'. Tidak lama kemudian, namanya menjadi Ki Gede Sambungyudha sesuai dengan kedudukannya sebagai penguasa. Waktu itu bumi Pemalang masih dipenuhi semak belukar, hutan lebat, dan rawa-rawa. Penduduknya terpencar di sepanjang sungai- sungai yang menjadi sumber air dan sekaligus jalur perhubungan dengan perahu dan sampan. Jalan darat masih sangat terbatas karena terhalang hutan dan semak belukar. Sulitnya perhubungan darat mendorong Ki Gede Sambungyudha merintis pembangunan jalan dan jembatan di berbagai termpat. Tokoh yang besar jasanya dalam rintisan itu adalah Ki Patih Jiwanegara. Selanjutnya, Pemalang diperintah oleh putranya yang bergelar Adipati Anom Windu Galbo, sedangkan patihnya masih tetap Ki Jiwanegara. Sayang sekali, perkembangannya tersendat karena terputus dengan pusat kekuasaan Majapahit yang runtuh pada akhir tahun 1400-an. Kebetulan muncullah kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah, yaitu Demak Bintoro yang berkedudukan di Demak. Namun, Demak Bintoro tidak berpengaruh terhadap perkembangan Pemalang. Demak Bintoro belum sempat memikirkan wilayah yang jauh-jauh. Penguasaan ke barat hanya sampai daerah Semarang. Tidak lama kemudian, terjadilah perebutan takhta kekuasaan. Dalam waktu singkat, Demak pun runtuh dan kekuasaan berpindah ke Kesultanan Pajang di dekat Surakarta. Kebetulan Pajang pun hanya bertahan sebentar karena terjadi juga perebutan takhta kekuasaan. Yang menang adalah Raden Sutowijoyo yang mulai berkuasa di Mataram (sekarang Yogyakarta). Runtuhnya Pajang mendorong para pemuda bangsawan dan priayi pergi mencari kehidupan baru yang lebih aman. Lebih baik hidup merdeka di kejauhan daripada ditindas kekuasaan lawan. Di antara mereka yang sampai ke Pemalang adalah Ki Gede Subayu dan Raden Sida Wini. Waktu itu Pemalang sedang komplang atau kehilangan kekuasaan. Artinya, tidak ada kekuasan yang kokoh. Sudah terputus dengan Majapahit yang runtuh, tetapi tidak terkait dengan Demak Bintoro, Pajang, dan Mataram. Keadaan itu membuka peluang Raden Sida Wini menanamkan pengaruhnya di bidang pemerintahan. Pengalamannya sebagai bangsawan Pajang disambut hangat masyarakat Pemalang. Terbukti dia pun sempat berkuasa sebagai adipati Pemalang. Sementara itu, Ki Gede Subayu melanjutkan perjalanan ke barat dan berhasil merintis daerah baru yang kemudian bernama Tegal. Pemerintahan yang dirintis Raden Sida Wini dilanjutkan oleh Kanjeng Jinogo Hanyokro Kusumo atau Darul Ambyah dengan semangat Islam. Pengangkatan dan pengakuan masyarakat Pemalang terhadap penguasa baru tersebut terjadi pada hari Kamis 24 Januari 1575 atau 2 Syawal 982 H. Karena itulah tanggal tersebut dijadikan sebagai tanggal kelahiran Kabupaten Pemalang. Jelaslah riwayat Pemalang jauh lebih tua daripada Tegal dan Pekalongan. Kota tersebut sudah lahir pada zaman Majapahit, sedangkan Tegal dan Pekalongan tumbuh seratus tahun kemudian bersama kekuasaan Mataram. Kesimpulan Cerita ini memberi pelajaran kepada kita tentang kesadaran membangun pemerintahan yang kokoh demi kemakmuran rakyat. Suatu daerah yang tidak memiliki pemerintahan mudah dilanda kekacauan. Sebaliknya, pemerintahan yang tidak memikirkan kepentingan rakyat berarti mengkhianati tugas atau kodratnya. Semangat Ki Gede Sambungyudha membangun jalan dan jembatan merupakan contoh kesadaran penguasa yang peduli terhadap kepentingan rakyat. Seharusnya, semangat itu dilanjutkan sepanjang zaman dengan selalu memihak kepentingan orang banyak. SALAM DARI PANGERAN PENDHURUAN "PANGERAN AROEL"

Minggu, 26 Juli 2015

Biografi KH A Wahid Hasyim

Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Hasyim Asy’arie, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Pada tahun 1939, NU menjadi anggota MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam di zaman pendudukan Belanda. Saat pendudukan Jepang yaitu tepatnya pada
tanggal 24 Oktober 1943 beliau ditunjuk menjadi Ketua Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) menggantikan MIAI. Selaku pemimpin Masyumi beliau merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang
membantu perjuangan umat Islam mewujudkan kemerdekaan. Selain terlibat dalam gerakan politik, tahun 1944 beliau mendirikan Sekolah Tinggi Islam
di Jakarta yang pengasuhannya ditangani oleh KH. A. Kahar Muzakkir. Menjelang kemerdekaan tahun 1945 ia menjadi anggota BPUPKI dan PPKI.
Wahid Hasyim meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Kota Cimahi tanggal 19 April 1953.

K. H. A. Wahid Hasyim dengan segudang pemikiran tentang agama, negara, pendidikan, politik, kemasyarakatan, NU, dan pesantren, telah menjadi lapisan sejarah ke-Islaman dan ke-Indonesiaan
yang tidak dapat tergantikan oleh siapapun. Untuk memperingati satu abad kelahiran K. H. A. Wahid Hasyim, diadakan serangkaian acara di beberapa kota di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Rangkaian acara dimulai dengan Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) mengenai Wahid Hasyim yang diikuti 260 makalah dari kategori santri/pelajar dan mahasiswa/umum dan akan diakhiri dengan
seminar nasional mengenai pemikiran politik Wahid
Hasyim pada 25 Juni 2011.
Acara yang digagas oleh Keluarga Besar K. H. A.
Wahid Hasyim ini dilakukan sebagai bentuk
penghormatan dan mengangkat pemikiran –
pemikiran K. H. A. Wahid Hasyim tentang
pembaharuan Islam Indonesia.
“Sebagaimana pahlawan bangsa lainnya, kita harus
menghormati dan mengangkat nilai perjuangannya.
Demikian juga untuk Kiai Wahid, karena ada nilai
kejuangan dan peran menonjol dari dirinya untuk
kemerdekaan, sebagai tokoh brilian yang progresif
bahkan memberi nilai baru pada Departemen
Agama.” Ungkap Ketua Umum Panitia Pelaksana
Satu Abad K. H. A. Wahid Hasyim, Aisyah Hamid
Baidlowi.
Abdul Wahid Hasyim adalah salah satu putra bangsa
yang turut mengukir sejarah negeri ini pada masa
awal kemerdekaan Republik Indonesia.Terlahir
Jumat Legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 Hijriyah atau 1
Juni 1914, Wahid mengawali kiprah
kemasyarakatannya pada usia relatif muda. Setelah
menimba ilmu agama ke berbagai pondok pesantren
di Jawa Timur dan Mekah, pada usia 21 tahun Wahid
membuat “gebrakan” baru dalam dunia pendidikan
pada zamannya. Dengan semangat memajukan
pesantren, Wahid memadukan pola pengajaran
pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama
dengan pelajaran ilmu umum.Sistem klasikal
diubah menjadi sistem tutorial. Selain pelajaran
Bahasa Arab, murid juga diajari Bahasa Inggris dan
Belanda. Itulah madrasah nidzamiyah.
Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng,
K. H. Ir. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengenang,
“Kiai Wahid adalah seorang tokoh NU dari jenis
yang tidak banyak kita temukan, yaitu pemimpin
organisatoris, jenis “pekerja” bukan “pembicara”.
Kiai Wahid dikenal juga sebagai man of action
bukan jenis man of ideas. Ia juga tidak hanya
pandai melontarkan gagasan tetapi bisa
mewujudkannya”.
Meskipun ayahandanya, hadratush syaikh Hasyim
Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, butuh waktu
beberapa tahun bagi Wahid Hasyim untuk
menimbang berbagai hal sebelum akhirnya
memutuskan aktif di NU. Pada usia 25 tahun Wahid
bergabung dengan Majelis Islam A’la Indonesia
(MIAI), federasi organisasi massa dan partai Islam
saat itu. Setahun kemudian Wahid menjadi ketua
MIAI.
Karier politiknya terus menanjak dengan cepat.
Ketua PBNU, anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI),
hingga Menteri Agama pada tiga kabinet (Hatta,
Natsir, dan Sukiman). Banyak kontribusi penting
yang diberikan Wahid bagi agama dan bangsa.
Rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dalam
Pancasila sebagai pengganti dari Kewajiban
Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya tidak
terlepas dari peran seorang Wahid Hasyim. Wahid
dikenal sebagai tokoh yang moderat, substantif, dan
inklusif.
Ironisnya, sebagai tokoh besar yang lahir dari
seorang tokoh besar (hadratus syaikh Hasyim
Asy’ari) dan melahirkan tokoh besar (Abdurrahman
“Gus Dur” Wahid) dengan peran dan kontribusinya
yang sangat penting bagi NKRI, tak banyak yang
diketahui oleh generasi bangsa saat ini tentang
Wahid Hasyim. Selain karena wafat dalam usia
relatif muda, 39 tahun, juga tidak banyak karya dan
pemikiran Wahid yang terdokumentasi dan
terpublikasi dengan baik.
posted from Bloggeroid

Download Roll Spike Sepak Takraw 1.4.0

Roll Spike Sepak Takraw 1.4.0 Siang gan. Kali ini saya akan membagikan game yang populer di kawasan asia tenggara. Seru game nya. Kita bi...